Terkadang, ada sebuah lembar kertas kosong yang mengingatkanku pada sebuah tulisan. Tulisan acak-acakan yang entah kenapa masih sangat ingin kusimpan. Tulisan tak rapi karena terburu-buru. Yah, tulisan dari tangan seorang teman yang bagiku lebih. Dia bukan sembarang teman, melainkan seorang guru sekaligus ayah untukku. Meski kami tidak lagi seperti dulu, saling bertukar pikiran untuk mencari solusi, tapi dengan goresan pena yang juga menggambarkan sebuah struktur itulah yang membuatku tau bahwa dia masih ada dibumi.
2 tahun lalu, awal semua bermula. Ketika benda tumpul itu membuat kami seolah sangat dekat dan terlihat seperti membutuhkan satu sama lain, disitulah semua cerita berawal. Tidak ada penghalang yang jelas terlihat. Tidak ada kecemburuan atau kemunafikkan satu sama lain. Dendam dan emosi, seolah tidak pernah tau itu seperti apa.
Lalu ketika kertas itu menjadi pelukis sejarah, kini aku tau itu adalah benda terakhir yang ditinggalkannya. Seperti menjadi syarat untukku "Jangan dekatkan lagi ya Allah, dia telah bahagia dengan mereka".
Dan, dari situlah semua berakhir. Tidak ada lagi keinginan menjalin pertemanan bersama, kecanggungan sangat terasa. Kecewan dan dendam seolah berperang ingin bersama saat kita harus tersatu pada satu situasi. Sungguh gerah.
...
Thursday, March 29, 2018
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Uhibbu
Terkadang, ada sebuah lembar kertas kosong yang mengingatkanku pada sebuah tulisan. Tulisan acak-acakan yang entah kenapa masih sangat ingin...
-
Aku terus menyusuri gedung-gedung kuliah setiap fakultas. Luas kampus yang mencapai 4 hektar tidak membuatku lelah meski peluh terus mengali...
-
Jika kau adalah bulan yang ditipkan tuhan Aku berharap aku adalah langitmu Meski hanya sebagai tempatmu bersinar Aku tetap senang, setida...
-
Aku, bukan tipe orang yang panda berbicara didepan banyak pasang mata. Hobiku hanya merangkai kata dalam diam yang diwujudkan melalui coreta...
No comments:
Post a Comment