Wednesday, March 28, 2018

Bicaraku, Tulisanku

Aku, bukan tipe orang yang panda berbicara didepan banyak pasang mata. Hobiku hanya merangkai kata dalam diam yang diwujudkan melalui coretan pena. Banyak yang menilaiku pendiam dan tak banyak bicara, itu hal yang biasa. Karena jujur saja, aku tidak suka banyak bicara dengan orang yang tak mengenal sifatku sebenarnya. Terlalu banyak yang ingin aku katakan pada dunia. Dan, hanya dengan pena itu semua dapat terlaksana. Tidak semua hal, dapat kuungkapkan lewat media.
Ada satu orang yang selalu mendorongku agar bisa tampil didepan seperti para penyeru wanita diluar sana. Dia pernah berkata "Untuk apa diciptakan mulut, sementara kau gunakan tangan untuk bicara". Awalnya, aku memang tidak suka mendengar ucapannya. Menyakitkan hingga aku ingin menutup telinga.
Setelah beberapa waktu kumulai lupa dengan kata-katanya, seseorang hadir dengan kalimat serupa namun tak sama. Hanya saja, makna dari kata-kata yang dia ungkapkan persis seperti mengajarkanku bahwa telinga manusia itu untuk mendengar, bukan membaca.
Aku mulai berpikir negatif tentang mereka berdua. Orang yang mengetuk pintu hatiku dengan kata yang kusebut sebagai "Guru Problema". Ketika senja menjelma menjadi malam gulita, aku berencana mencari jawaban untuk menangkis semuanya. Hingga kudapatkan satu pertanyaan untuk mereka "Salahkah, jika mulut diam tapi tangan bicara?".
Bagiku, tidak sepantasnya seseorang yang pandai mengungkapkan kata dengan bicara memahami seorang manusia yang hanya bisa memainkan pena, sebagai manusia yang tidak mensyukuri nikmat dari Rabb-Nya. Justru, dengan aku hanya memegang pena dan diam seribu bahasa dibalik meja, aku menyelamatkan lidahku dari genggaman kedendaman, kebencian dan keegoisan untuk memenangkan perdebatan yang diawali dari lisan tanpa pemikiran dari manusia.
Dahulu, aku pernah berbicara lantang menyuarakan yang ingin kuungkapkan pada dunia. Tapi, apa yang kudapatkan? Kecewa! Aku kecewa dengan kepandaianku bersilat lidah sementara aku tak mampu mengeluarkan kata yang sempurna agar menghindari kemarahan yang tiada guna dari manusia-manusia yang menjadi pendengarnya. Perdebatan, banyak terjadi karena perbuatan lidah.
Tulisan, mengajarkanku arti dari bersuara yang dapat dipilah mana yang bisa disebarkan, dan mana yang harus disimpan saja. Oleh karena itu, aku memilih diam dari pada terjerumus keperilaku sama seperti dulu yang membuatku menyesal karena pernah buka suara.
Catatan Lisan Melalui Tulisan
~Januari2018

No comments:

Post a Comment

Uhibbu

Terkadang, ada sebuah lembar kertas kosong yang mengingatkanku pada sebuah tulisan. Tulisan acak-acakan yang entah kenapa masih sangat ingin...