Thursday, March 29, 2018

Uhibbu

Terkadang, ada sebuah lembar kertas kosong yang mengingatkanku pada sebuah tulisan. Tulisan acak-acakan yang entah kenapa masih sangat ingin kusimpan. Tulisan tak rapi karena terburu-buru. Yah, tulisan dari tangan seorang teman yang bagiku lebih. Dia bukan sembarang teman, melainkan seorang guru sekaligus ayah untukku. Meski kami tidak lagi seperti dulu, saling bertukar pikiran untuk mencari solusi, tapi dengan goresan pena yang juga menggambarkan sebuah struktur itulah yang membuatku tau bahwa dia masih ada dibumi.
2 tahun lalu, awal semua bermula. Ketika benda tumpul itu membuat kami seolah sangat dekat dan terlihat seperti membutuhkan satu sama lain, disitulah semua cerita berawal. Tidak ada penghalang yang jelas terlihat. Tidak ada kecemburuan atau kemunafikkan satu sama lain. Dendam dan emosi, seolah tidak pernah tau itu seperti apa.
Lalu ketika kertas itu menjadi pelukis sejarah, kini aku tau itu adalah benda terakhir yang ditinggalkannya. Seperti menjadi syarat untukku "Jangan dekatkan lagi ya Allah, dia telah bahagia dengan mereka".
Dan, dari situlah semua berakhir. Tidak ada lagi keinginan menjalin pertemanan bersama, kecanggungan sangat terasa. Kecewan dan dendam seolah berperang ingin bersama saat kita harus tersatu pada satu situasi. Sungguh gerah.
...

Jika

Jika kau adalah bulan yang ditipkan tuhan
Aku berharap aku adalah langitmu
Meski hanya sebagai tempatmu bersinar
Aku tetap senang, setidaknya itu didekatmu

Kau tau, cemburu yang paling sulit kutangani?

Melihatmu tersenyum tanpa ragu pada yang lain
Tapi ketika denganku kau buat wajah yang berbeda
Wajah serius dan tak gembira seolah khusus untukku

Jika kau adalah sekuntum bunga yang banyak sari

Aku rela menjadi sebuah kumbang kecil atau besar
Setidaknya, dengan itu kamu tau bahwa 
Hidupku bergantung pada ada tidaknya sari

Kau tau, hal apa yang paling membuatku sedih? 

Melihatmu sedih dan meratapi nasib
Kau seolah tak peduli dengan nasib yang lain
Memandang dirimu paling sedih padahal aku lebih

Jika kau adalah metahari pagi yang terik

Aku tak apa menjadi pakaian yang tergantung
Kau tau bagaimana panasnya terbakar
Untuk bisa melepaskan sisa kebasahan

Kau tau, aku tidak pernah menyukaimu dulu

Bahkan sangat membenci keegoisan dirimu
Tapi entahlah, rasa benci itu mengajarkanku
Bahwa rasa dan hati mudah berganti


Wednesday, March 28, 2018

Bicaraku, Tulisanku

Aku, bukan tipe orang yang panda berbicara didepan banyak pasang mata. Hobiku hanya merangkai kata dalam diam yang diwujudkan melalui coretan pena. Banyak yang menilaiku pendiam dan tak banyak bicara, itu hal yang biasa. Karena jujur saja, aku tidak suka banyak bicara dengan orang yang tak mengenal sifatku sebenarnya. Terlalu banyak yang ingin aku katakan pada dunia. Dan, hanya dengan pena itu semua dapat terlaksana. Tidak semua hal, dapat kuungkapkan lewat media.
Ada satu orang yang selalu mendorongku agar bisa tampil didepan seperti para penyeru wanita diluar sana. Dia pernah berkata "Untuk apa diciptakan mulut, sementara kau gunakan tangan untuk bicara". Awalnya, aku memang tidak suka mendengar ucapannya. Menyakitkan hingga aku ingin menutup telinga.
Setelah beberapa waktu kumulai lupa dengan kata-katanya, seseorang hadir dengan kalimat serupa namun tak sama. Hanya saja, makna dari kata-kata yang dia ungkapkan persis seperti mengajarkanku bahwa telinga manusia itu untuk mendengar, bukan membaca.
Aku mulai berpikir negatif tentang mereka berdua. Orang yang mengetuk pintu hatiku dengan kata yang kusebut sebagai "Guru Problema". Ketika senja menjelma menjadi malam gulita, aku berencana mencari jawaban untuk menangkis semuanya. Hingga kudapatkan satu pertanyaan untuk mereka "Salahkah, jika mulut diam tapi tangan bicara?".
Bagiku, tidak sepantasnya seseorang yang pandai mengungkapkan kata dengan bicara memahami seorang manusia yang hanya bisa memainkan pena, sebagai manusia yang tidak mensyukuri nikmat dari Rabb-Nya. Justru, dengan aku hanya memegang pena dan diam seribu bahasa dibalik meja, aku menyelamatkan lidahku dari genggaman kedendaman, kebencian dan keegoisan untuk memenangkan perdebatan yang diawali dari lisan tanpa pemikiran dari manusia.
Dahulu, aku pernah berbicara lantang menyuarakan yang ingin kuungkapkan pada dunia. Tapi, apa yang kudapatkan? Kecewa! Aku kecewa dengan kepandaianku bersilat lidah sementara aku tak mampu mengeluarkan kata yang sempurna agar menghindari kemarahan yang tiada guna dari manusia-manusia yang menjadi pendengarnya. Perdebatan, banyak terjadi karena perbuatan lidah.
Tulisan, mengajarkanku arti dari bersuara yang dapat dipilah mana yang bisa disebarkan, dan mana yang harus disimpan saja. Oleh karena itu, aku memilih diam dari pada terjerumus keperilaku sama seperti dulu yang membuatku menyesal karena pernah buka suara.
Catatan Lisan Melalui Tulisan
~Januari2018

Nasehat Diri

Wahai ukhti, Jika kamu beribadah hanya untuk temukan jodoh seperti apa yang selalu kau minta dalam do'a, maka itu tidak salah. Tidak mengapa jika jilbabmu kau gunakan untuk menutupi auratmu agar terlihat didepannya. Siapa tau saja dampaknya bisa juga kena ayahmu. Menyelamatkannya dari neraka.
Wahai ukhti, tidak mengapa kau ingin membaca Al-Qur'an agar bacaanmu merdu ketika tadarrusan bersama akhwat lain dan mereka memujimu. Siapa tau dengan itu, kamu bisa menjadi motivasi untuk yang lain memperbagus bacaannya. 
Wahai ukhti, ketika tanganmu meminta agar Allah satukan kamu dengan orang yang kamu idamkan, maka itu tidak pernah dilarang. Siapa tau do'amu membawa kebaikan untuknya dan bernilai pahala untukmu. 

Wahai ukhtiku, 
Wanita mana yang tidak ingin terlihat cantik ketika ia memakai pakaian pengantin. 
Wanita mana yang tidak ingin terlihat baik ketika ia dikagumi karena kemerduan suaranya.
Dan, wanita mana yang tidak ingin bersatu dengan orang yang diharapkan. 

Tapi Ukhti, 
Ingatlah, ketika pakaian pengantin itu tak sanggup kau gunakan karena terbatasnya usia, maka kain kafanlah penggantinya.
Ketika suara merdumu yang engkau niatkan untuk mendapatkan pujian, membuatmu tak sanggup mengucapkan "Laa Illaha Ilallah", maka semuanya sia-sia.
Ketika keinginan bersatumu dengan yang kau inginkan justru didahului oleh malaikat pencabut nyawa, maka rugilah. 

Apa yang hendak kau lakukan? 
Bertobat, tidak lagi bisa. Waktu telah habis untuk itu. Niat yang salah bukan karena Allah membuatmu sulit untuk melakukan apa yang seharusnya bisa kau lakukan dengan segala amalan yang pernah dikerjakan.

"Luruskan Niat, Luruskan Niat." Kata seorang akhwat ketika rapat kepanitian pada kajian peradaban berakhir terus membuat hati bergetar...

Tuesday, March 27, 2018

Berkilauan

Aku terus menyusuri gedung-gedung kuliah setiap fakultas. Luas kampus yang mencapai 4 hektar tidak membuatku lelah meski peluh terus mengalir membasahi sekujur tubuh. Langkahku terhenti pada sebuah kelas yang bertuliskan R.1.2 difakultas teknik. Sudah 4 fakultas kutelusuri, dan akhirnya aku menemukan apa yang kucari. "Disini kau rupanya." Aku berteriak kecil untuk mengalihkan perhatiannya.
Dina berbalik ke arahku seakan kaget. "Ya Allah apa yang terjadi? Kenapa bajumu basah seperti ini?. Ayo duduk." Katanya sambil menyodorkan kursi didekatnya.
Nafasku tersengal-sengal. Hampir habis tenagaku mencari Dina untuk memintanya menandatangani proposal kegiatan footsal jurusan yang rencana akan diadakan besok. Meskipun aku sedikit kesal padanya, tapi aku harus berusah baik agar ia mau meberikan tandatangannya.
Namaku Adi, aku seorang mahasiswa semester 6 jurusan teknik informatika. Dan Dina, dia adalah teman sekelasku. Kami berteman cukup dekat dan selalu membuat kegiatan bersama dari awal masuk kuliah. Yah, termasuk juga kegiatan footsal besok. Kali ini, dialah ketuanya. Sedang aku? Aku hanya sebagai sekretaris. Kemampuan Dina memang tidak bisa diragukan lagi dalam memimpin suatu kegiatan. Meskipun dia seorang perempuan, semangatnya untuk mengubah pemikiran kami, membuatnya selalu berhasil menyelenggarakan kegiatan.
Tapi, kali ini aku sangat kecewa dengannya. Bagaimana tidak, dia yang biasanya sangat amtif dalam suatu kegiatn. Bahkan sampai bolos kuliah untuk kesuksesan suatu acara. Namun sekarang? Dina seolah tidak perduli. Semuanya ia tumpahkan padaku. Bahkan berkas yang kubawa jauh-jauh, langsung ditanda tangani tanpa diperiksanya terlebih dulu
.....

Jatuh cinta L-A-G-I


Mungkin, duniaku dan duniamu tak sama
Kita diciptakan menjadi berbeda
Sama seperti manusia lainnya
Berbeda untuk dapat melengkapi

Bagimu, mungkin wajar saja
Ketertarikan adalah hal yang biasa
Tapi, bagiku itu sesuatu yang patut untuk dihindari
Menjadi tertarik, maka mencoba untuk terluka

Aku memilih jalan ini bersamamu
Jalan sederhana yang mungkin akan berbatu kedepannya
Hanya saja, bagiku itulah yang menarik
Mencoba untuk menjadi sama seperti mereka

Jika bagimu, angka adalah penyempurna hidup
Maka bagiku, katalah jawabannya
Angka dan kata mungkin merupakan dua hal yang berbeda
Menyatu mungkin bisa, tapi akan sulit

Uhibbu

Terkadang, ada sebuah lembar kertas kosong yang mengingatkanku pada sebuah tulisan. Tulisan acak-acakan yang entah kenapa masih sangat ingin...